NON STOP – Di zaman era digitalisasi, media online makin menjamur. Perusahaan pers harus bisa mengambil sikap untuk melakukan perubahan. Semuanya itu dilaksanakan agar perusahaan pers bisa tetap eksis menjalankan perusahaannya.
Demikian disampaikan Ketua Serikat Perusahaan Pers (SPS) Sumut, H Farianda Putra Sinik SE dalam acara Workshop Pra UKW SPS Sumut dan PWI Sumut dengan tema “Meningkatkan Kompetensi Wartawan yang Profesional, Beretika dan Bermartabat” di Le Polonia Hotel Medan, Kamis (28/7).
“Sekarang ini, Perusahaan Pers khususnya surat kabar mulai mengurangi cetak dan beralih menggunakan platform online. Selain itu, harus bisa menghasilkan berita dan tontonan yang berkualitas, akurat dan dibutuhkan publik sehingga mereka tidak ditinggal pelanggan. Itu salah satu agar tetap eksis mengelola perusahaan,” ujarnya.
Farianda yang juga menjabat Ketua PWI Sumut menyebutkan, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap surat kabar semakin menurun mencapai 36,3 persen dan media online 37,2 persen. Bahkan, 77 persen iklan dikuasai media online.
“Hasil penelitian tersebut menggambarkan realitas yang dihadapi media pers di era digital sekarang. Dan fakta bahwa persentase pembaca surat kabar menurun dan merupakan realitas yang tidak bisa dibantahkan,” tandasnya yang sekaligus menjadi panelis dalam diskusi bertema Tantangan SPS Sumut dalam Era Digitalisasi.
Sementara itu, Ketua Dewan Kehormatan Provinsi (DKP) PWI Sumut Drs M Syahrir M.I.Kom mengajak, wartawan untuk meningkatkan kompetensi dan lebih profesional. Karena, tengah kemudahan teknologi sekarang ini banyak wartawan jadi malas.
“Untuk menjadi anggota PWI harus lulus UKW. Karena, wartawan tersebut sudah pasti profesional,” ungkapnya.
Sedangkan, Sekretaris Serikat Perusahaan Pers (SPS) Sumut, Rianto Agly SH menuturkan, untuk menjadi seorang pimpinan redaksi dalam sebuah media siber atau online tidaklah mudah. Karena banyak hal yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pimpinan redaksi. Ada ketentuan-ketentuan yang berlaku selain membuat pemberitaan yang tetap memenuhi unsur-unsur jurnalistik.
Selain itu, di era digital berbagi media bermunculan. Bahkan, yang sangat luar biasa bukan media online, tapi media sosial. Bahkan, berita di media sosial ini rentan terhadap hoaks.
“Ini sangat berbahaya bagi media online yang sering mengutip media sosial. Pasalnya, media sosial rentan terjerat masalah hukum,” ujarnya menjadi panelis dalam diskusi bertema UKW dalam Perspektif Media Online.
Pria yang akrab disapa Anto Genk bilang, wartawan dituntut memiliki kemampuan dasar jurnalistik tetapi juga harus mampu menguasai teknik tata bahasa yang efektif dan cerdas. Yakni dalam memecah sebuah informasi menjadi berita yang menarik dan dipahami pembaca.
“Terutama wartawan media siber/online yang memiliki waktu singkat. Karena berita yang dimuat disiarkan langsung secara cepat,” pungkas Ketua Jaringan Media Siber (JMSI) Sumut ini. (*)
Editor : Ibnu













