Polisi di China Gantung Kaki dan Seret Pedemo Anti-Lockdown

Polisi di China Gantung Kaki dan Seret Pedemo Anti-Lockdown
Polisi di China Gantung Kaki dan Seret Pedemo Anti-Lockdown

NON STOP – Polisi China disebut menyeret dan menggantung para pedemo yang berunjuk rasa menolak kebijakan lockdown dan mendesak Presiden Xi Jinping mundur pekan lalu.

Hal itu diungkap Chen, salah seorang demonstran yang menjadi korban gantung saat aksi pada Sabtu lalu.

Aksi demonstrasi ini diketahui pecah di sejumlah kota China. Para demonstran menolak kebijakan nol Covid di negara itu.

Protes itu pertama kali dipicu oleh kebakaran apartemen di Urumqi, Xinjiang, yang menewaskan 10 orang pada pekan lalu.

Chen mengatakan polisi merangsek masuk ke kerumunan demonstran dan menyeret siapapun tanpa pandang bulu untuk digantung terbalik sebelum diangkut paksa ke dalam bus.

“Mereka menangkap saya dan menggantung saya terbalik,” kata Chen kepada Radio Free Asia.

“Saya meletakkan tangan saya di tanah, dan ada darah di tangan dan wajah saya. Saat itu saya berpikir, ‘yah, saya tidak akan bisa keluar dari sini,’ dan kemudian mereka memasukkan saya ke dalam bus.”

Chen bercerita kala itu dia berada di belakang kerumunan para pedemo. Dia tak mengira bakal ditangkap petugas karena berada di posisi belakang.

Saat itu, ujarnya, ada sekitar 500 orang yang berada di lokasi demonstrasi.

“Saya pikir saya akan baik-baik saja selama saya tidak berdiri di barisan depan,” ujar dia.

“Saya pikir jika saya berdiri di baris kedua atau ketiga [dari kerumunan] dan [ketika] petugas mulai menangkap orang, mereka akan mulai [menangkap] dari baris depan,” ucapnya.

Bukan cuma pria, para polisi juga menyeret dan menggantung perempuan yang ikut berdemo di sana.

Chen mengaku melihat seorang perempuan yang dipukuli karena menolak diangkut ke bus. Perempuan itu juga digantung terbalik sepertinya sebelum akhirnya digiring ke bus.

“Sekitar selusin petugas polisi mendorong wanita ini ke tanah dan memukulinya. Wanita itu berjuang mati-matian [menolak dibawa ke bus],” katanya.

“Kemudian mereka menggantung wanita itu terbalik [seperti yang mereka lakukan terhadap saya] dan lebih dari selusin dari mereka membawanya ke bus.”

Meski begitu, Chen berhasil kabur setelah dibawa ke bus. Dia melompat keluar dari bus kala petugas sibuk menyeret pedemo lain.

Chen lalu berjalan dengan hanya menggunakan kaus kaki lantaran sepatunya tertinggal saat melompat.

Dia lantas bersembunyi dengan bantuan sejumlah orang yang lewat sebelum akhirnya pulang ke rumah.

Kejadian itu pun membuat Chen dan sejumlah pedemo lain trauma atas aksi represif aparat.

Chen mengaku terus memberi kabar kepada temannya untuk memastikan dia baik-baik saja. Dia melakukan hal itu agar temannya bisa menulis cuitan di Twitter jika suatu hari hal buruk menimpanya.

“Saya memberi tahu [seorang teman] bahwa saya akan menghubunginya setiap hari sehingga dia tahu bahwa saya baik-baik saja dan bahwa dia akan mencuit detail pribadi saya jika suatu hari dia tidak mendengar kabar dari saya,” ucap Chen.

Para warga menganggap korban berjatuhan karena petugas pemadam kebakaran terhambat aturan lockdown yang terlalu ketat saat menjalankan tugas.

Amarah publik pun meluas secara sporadis hingga ke Beijing, Guangzhou, bahkan Shanghai selama akhir pekan kemarin. Mereka ramai-ramai mendesak Presiden China Xi Jinping mundur.

Para demonstran juga mengacungkan kertas putih, melambangkan frustrasi mereka karena tak bebas menyuarakan opini lantaran sistem sensor yang terlampau ketat di China.

Dilansir dari CNNIndonesia.com, aksi demonstrasi semacam ini dianggap langka di China, negara dengan sistem sensor dan keamanan yang ketat. Ini pun disebut-sebut sebagai aksi demonstrasi terbesar sejak insiden Tiananmen pada 1989 silam.

Sejumlah pedemo dan wartawan, termasuk jurnalis asing, juga dilaporkan ditahan polisi China selama demonstrasi tersebut.

Usai demonstrasi itu, kepolisian China pun memperketat keamanan di titik-titik demo. Mereka juga menghentikan orang-orang yang lewat untuk memeriksa ponsel.

Petugas melakukan hal itu untuk memastikan warga tak memiliki jaringan pribadi virtual (VPN) dan aplikasi Telegram. Kedua aplikasi itu digunakan para demonstran untuk berkomunikasi selama demo.

China sendiri memang tak memperbolehkan warga memakai VPN, sementara Telegram sudah diblokir dari internet Beijing. Namun, warga bisa mengakses sejumlah situs yang dilarang jika menggunakan VPN.

Editor : Ibnu
Sumber : CNN INDONESIA