NON-STOP.ID | Denpasar – Banjir besar yang melanda Bali sejak Selasa (9/9) hingga Rabu (10/9) 2025 menyebabkan 16 orang meninggal dunia, dua masih hilang, dan lebih dari 500 orang mengungsi. Bencana hidrometeorologi ini juga mengakibatkan kerusakan infrastruktur dan gangguan pariwisata di Pulau Dewata.
Korban dan Dampak
Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban tewas terbanyak tercatat di Kota Denpasar (8 orang), diikuti Kabupaten Gianyar (3), Jembrana (2), dan Badung (1). Sebagian besar korban meninggal akibat tanah longsor dan luapan sungai. Sebanyak 562 warga terpaksa mengungsi ke sekolah dan masjid karena rumah mereka terendam banjir.
Penyebab dan Analisis
BMKG Wilayah III Denpasar mengungkapkan bahwa banjir dipicu oleh curah hujan ekstrem yang melanda Bali sejak Selasa malam. Gelombang Rosby ekuatorial berperan dalam meningkatkan pembentukan awan konvektif yang menghasilkan hujan lebat.
Respons dan Pemulihan
Pemerintah Provinsi Bali dan BNPB menurunkan lebih dari 200 personel gabungan, termasuk 500 personel TNI, untuk membersihkan lumpur dan puing-puing di jalan-jalan utama. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, telah meninjau lokasi bencana dan menginstruksikan evaluasi sistem drainase di Denpasar.
Dampak Pariwisata dan Transportasi
Banjir menyebabkan gangguan pada akses ke Bandara Internasional Ngurah Rai, meskipun hingga saat ini belum ada pembatalan penerbangan.Beberapa kawasan wisata seperti Legian dan Kuta juga terendam, mempengaruhi aktivitas pariwisata di Bali.
Dukungan Internasional
Pemerintah Indonesia telah menerima pesan belasungkawa dari berbagai negara dan organisasi internasional. Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan Kepala BNPB untuk memimpin operasi darurat dan memastikan kebutuhan dasar korban terpenuhi.
Banjir ini menjadi salah satu bencana alam terbesar di Bali dalam beberapa tahun terakhir, menyoroti pentingnya kesiapsiagaan dan mitigasi bencana di daerah rawan bencana.(nsid/dy)













