NON-STOP.ID | Jakarta – Sejak meluncurkan ChatGPT, OpenAI berkembang pesat dengan lebih dari 700 juta pengguna dalam tiga tahun. Namun, popularitas itu ternyata belum sebanding dengan keuntungan finansial. Hanya segelintir pengguna yang bersedia membayar layanan berbayar.
Menurut studi Menlo Ventures, hanya 3% konsumen yang mau berlangganan layanan AI. Survei terhadap 5.000 pengguna menunjukkan adopsi AI dalam kehidupan sehari-hari masih rendah. Kondisi ini berimbas pada OpenAI, yang harus menanggung beban biaya operasional raksasa sekaligus kerugian miliaran dolar setiap tahunnya.
Biaya Operasional Membengkak
Selama sembilan bulan terakhir, OpenAI mengungkapkan akan menghabiskan hingga US$60 miliar per tahun hanya untuk komputasi Oracle. Selain itu, pusat data butuh sekitar US$18 miliar (Rp295,4 triliun), sementara belanja chip mencapai US$10 miliar (Rp164,1 triliun).
Wall Street Journal melaporkan bahwa agar bisa bertahan, OpenAI membutuhkan ratusan juta pengguna yang bersedia membayar lebih banyak untuk layanan AI mereka.
Rugi Besar hingga 2029
Prospek ke depan juga tak mudah. Sam Altman, CEO OpenAI, memperkirakan kerugian perusahaan akan terus berlanjut hingga 2029, dengan akumulasi mencapai US$44 miliar (Rp722,3 triliun) sebelum akhirnya mulai meraih laba.
Masalah lain yang membayangi adalah rencana perubahan struktur OpenAI dari nirlaba ke komersial penuh. Nasib komitmen pendanaan senilai US$19 miliar (Rp311,9 triliun) pun bergantung pada langkah tersebut.
Dengan kondisi ini, masa depan OpenAI akan sangat ditentukan oleh seberapa jauh publik bersedia membayar untuk layanan AI di tengah biaya operasional yang kian membengkak.
(nsid/dy)













