Kabut Asap Kembali Menyelimuti Sumut, Bobby Nasution Pertimbangkan Modifikasi Cuaca

Kondisi Kota Medan di Jalan P Diponegoro yang masih diselimuti kabut asap.
Kondisi Kota Medan di Jalan P Diponegoro yang masih diselimuti kabut asap.

NON-STOP.ID | MEDAN – Kabut asap kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatera Utara. Gubernur Sumut Muhammad Bobby Afif Nasution pun bersiap mengambil langkah antisipasi dengan berkoordinasi bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), termasuk mempertimbangkan kembali pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Bagi pemerintah, pemantauan kondisi atmosfer dan kualitas udara menjadi langkah penting untuk mencegah kabut asap semakin pekat hingga mengancam kesehatan masyarakat. Perkembangan situasi di lapangan akan menjadi dasar untuk menentukan tindakan lanjutan.

Bobby mengatakan, koordinasi dengan BMKG diperlukan untuk mengetahui tingkat bahaya kabut asap, sekaligus memetakan potensi memburuknya kualitas udara akibat asap yang diduga berasal dari wilayah lain.

“Kami akan berkoordinasi dengan BMKG untuk melihat kondisi kabut asap ini. Kami berharap kondisinya bisa segera membaik dan tidak sampai masuk kategori berbahaya,” ujar Bobby dalam keterangannya, Sabtu (24/10).

Menurutnya, pemerintah mengutamakan langkah pencegahan sebelum kondisi udara mencapai tingkat yang membahayakan. Karena itu, pemantauan akan terus dilakukan untuk menentukan apakah diperlukan penanganan tambahan, termasuk melalui modifikasi cuaca.

OMC Menunggu Kondisi Atmosfer

Operasi Modifikasi Cuaca menjadi salah satu opsi yang dapat kembali ditempuh pemerintah untuk membantu mengatasi dampak kabut asap. Namun, pelaksanaannya tidak bisa dilakukan begitu saja karena membutuhkan kajian teknis berdasarkan kondisi atmosfer dan potensi pembentukan hujan.

Dalam operasi tersebut, teknologi modifikasi cuaca digunakan untuk mendukung proses pembentukan hujan dengan memanfaatkan awan yang memenuhi persyaratan. Hujan diharapkan dapat membantu menekan partikel asap di udara maupun membasahi area yang terdampak.

Karena itu, koordinasi dengan BMKG menjadi bagian penting dalam menentukan waktu dan wilayah yang memungkinkan untuk pelaksanaan OMC. Keputusan tersebut akan mempertimbangkan perkembangan cuaca serta kebutuhan penanganan di Sumut.

Sebelumnya, modifikasi cuaca juga menjadi salah satu upaya pemerintah dalam menghadapi kabut asap. Kini, opsi serupa kembali dipertimbangkan seiring munculnya kabut asap di sejumlah wilayah.

Meski demikian, pemerintah belum memastikan kapan operasi tersebut akan dilaksanakan kembali. Langkah lanjutan masih bergantung pada hasil pemantauan dan koordinasi dengan pihak terkait.

Bobby mengingatkan, penanganan kabut asap tidak hanya menyangkut upaya memperbaiki kualitas udara, tetapi juga perlindungan kesehatan masyarakat. Pemerintah berharap kondisi tidak berkembang hingga masuk kategori berbahaya.

Jika kualitas udara memburuk, masyarakat perlu mengurangi aktivitas di luar ruangan. Pembatasan aktivitas menjadi salah satu langkah untuk menekan paparan asap, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, serta warga yang memiliki gangguan pernapasan.

“Harapan kita, jangan sampai kondisinya menjadi berbahaya. Kalau sudah masuk kategori berbahaya, tentu aktivitas masyarakat di luar rumah harus dibatasi karena ini berkaitan dengan kesehatan,” katanya.

Pemerintah pun mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan kualitas udara. Apabila kabut asap semakin pekat, warga disarankan mengurangi kegiatan di luar ruangan dan menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel.

Di tengah kondisi tersebut, pemantauan kualitas udara dan koordinasi lintas instansi menjadi kunci untuk menentukan langkah penanganan yang tepat. Pemerintah berharap kabut asap segera mereda sehingga tidak berkembang menjadi ancaman yang lebih serius bagi kesehatan maupun aktivitas masyarakat di Sumatera Utara. (ril)